hadits

Kamis, 23 Mei 2013

Download Murattal Thaha Al Junayd - Juz 30 - 29, 27 - 26, Al-Fatihah



Juz 1

Juz 3

Juz 12

Juz 26

Juz 27

Juz 29 - Juz Tabarak

Juz 30 - Juz Amma

http://varisphere.blogspot.com/2011/03/download-murattal-thaha-al-junayd-juz.html

Kamis, 04 April 2013

Sistem Informasi Pendidikan

GLOBALISASI INFORMASI

A.    Pengertian Globalisasi Informasi

Globalisasi berasal dari kata global yang berarti meliputi seluruh dunia. Globalisasi berarti proses masuknya ruang lingkup dunia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia globalisasi adalah fenomena yang menjadikan dunia mengecil dari segi perhubungan manusia yang dimungkinkan karena perkembangan teknologi yang sangat cepat.

Teknologi informasi adalah seperangkat alat yang membantu bekerja dengan informasi dan melaksanakan tugas-tugas yang berhubungan dengan pemrosesan informasi.

Dari pengertian diatas, globalisasi informasi merupakan istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia diseluruh dunia melalui informasi yang dapat disampaikan menggunakan suatu media sehingga manusia mudah dalam berhubungan meski jarak yang jauh.

B.    Ciri-ciri Globalisasi Informasi
  1. Semakin tingginya peradaban karena perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga tercipta masyarakat yang hidup dengan dinamis dan kreatif dengan melahirkan gagasan baru dalam seluruh aspek kehidupan.
  2. Penyampaian komunikasi dan informasi yang sangat cepat.
  3. Tingginya laju transformasi social yang memberikan kemudahan dan kecepatan manusia dalam berhubungan dengan orang llalin.
  4. Terjadinya perubahan gaya hidup yang lebih modern.
  5. Semakin tajamnya gap antara Negara industry dengan Negara berkembang sehingga tidak ada keseimbangan komunikasi antara Negara maju dengan Negara berkembang.
C.    Dampak Positif Globalisasi Informasi
  1. Memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan.
  2. Mempermudah masyarakat mengakses berbagai informasi yang sedang terjadi.
  3. Kehidupan social ekonomi masyarakat lebih produktif, efektif dan efisien.
  4. Pemanfaatan sumber daya alam lebih efisien dan berkesinambungan
  5. Bangsa Indonesia menguasai iptek sehingga bias sejajar dengan Negara lain lainnya.
  6. Media cetak sebagai sarana menyampaikan informasi yang efektif bagi masyarakat.
  7. Penyebaran informasi lebih mudah dan cepat.
D.    Dampak Negatif Globalisasi Informasi
  1. Informasi tidak tersaring sehingga banyak informasi negative yang mudah diakses masyarakat.
  2. Membuat sikap menutup diri, berfikir sempit yang tidak memikirkan lingkungan.
  3. Masyarakat banyak yang meniru perilaku buruk.
  4. Mudah terpengaruh oleh hal baru meski tidak sesuai dengan kebiaasaan dan kebudayaan.
  5. Tersebarnya nilai-nilai yang melanggar nilai-nilai kesopanan dan budaya bangsa.
E.    Upaya Pencegahan terhadap Dampak Negatif Globalisasi Informasi
  • Bagi Pemerintah
  1. Peningkatan kualitas SDM melalui pendidikan mental dan spiritual.
  2. Penguasaan teknologi komunikasi untuk menyaring informasi yang dianggap tidak sesuai dengan kepribadian bangsa.
  3. Pemerintah meninjau kembali kebijaksanaan yang terlalu membuka diri terhadap arus informasi dari luar bagi seluruh masyarakat.
  • Bagi Masyarakat
  1. Orang tua terus melakukan pengawasan dan memberikan pengertian kepada anak acara televisi yang boleh ditonton dan yang tidak boleh ditonton.
  2. Memperhatikan, mengontrol, dan mengawasi penggunaan internet pada anak.
  3. Pembinaan dan penanaman mental dan keagamaan pada anak.
  4. Pendidik di sekolah menanamkan budaya bangsa dan memberi pengertian tentang nilai budaya asing yang baik dan yang tidak baik.

KEKERASAN PELECEHAN SEKSUAL TERHADAP PELAJAR
DI LINGKUNGAN SEKOLAH

A.    Pengertian Pelecehan Seksual Pelajar di Lingkungan Sekolah

Pelecehan seksual adalah segala macam bentuk perilaku yang berkonotasi seksual dan tidak senonoh yang dilakukan secara sepihak dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan reaksi negatif: rasa malu, marah, dan tersinggung pada diri korban di lingkungan sekolah.
Maraknya tayangan-tayangan kekerasan dalam dunia pendidikan, khususnya yang dilakukan oleh guru terhadap siswanya ataupun oleh siswa terhadap temannya, seharusnya mampu membuka atau menggugah hati kita sebagai seorang pendidik, bahwa tidak tertutup kemungkinan praktik-praktek tersebut terjadi pula di lingkungan sekolah kita masing-masing.

B.    Tinjauan Hukum Kekerasan
  1. Pasal 3 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, “fungsi pendidikan nasional untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”
  2. Pasal 81 “Setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan paling singkat 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah) dan paling sedikit Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah)”.
  3. Pasal 54 “Anak di dalam dan di lingkungan sekolah wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau teman-temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya.” (UU Perlindungan Anak)
C.    Faktor Penyebab Terjadinya Pelecehan Seksual
  1. Faktor moralitas dan rendahnya internalisasi ajaran agama serta longgarnya pengawasan dilevel keluarga dan masyarakat.
  2. Faktor permisifitas dan abainya masyarakat terhadap potensi pelecehan seksual tanpa disertai dengan kesadaran literasi media serta tanpa diikuti pemahaman dan penyikapan yang proporsional.
  3. Faktor perhatian orang tua dan keluarga yang relatif longgar terhadap anaknya dalam memberikan nilai-nilai hidup yang bersifat mencegah terkait etika pergaulan, etika berbusana, etika sosial lainnya.
Dari uraian diatas penyusun menguraikan penyebab terjadinya pelecehan seksual di sekolah menjadi dua faktor, yaitu.

1.    Faktor pelaku
  • Kurangnya keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
  • Minimnya penyaringan pemahaman terhadap tayangan-tayangan di media masa (internet, televisi, handphone, dll).
  • Bayangan masa lalu karena orang yang disayangi dihianati.
  • Dendam tersembunyi kepada korban.
2.    Faktor korban
  • Busana/pakaian yang digunakan terlalu ketat dan menggoda pelaku.
  • Sikap perilaku korban sendiri.
  • Faktor internal dalam keluarga sehingga mendorong mencari teman yang keliru/salah.
D.    Dampak Kekerasan Pelecehan Seksual

Dampak lain yang akan muncul dari kekerasan pelecehan pelajar akan melahirkan pesimisme dan apatisme dalam sebuah generasi. Selain itu terjadi proses ketakutan dalam diri anak untuk menciptakan ide-ide yang inovatif dan inventif. Kekerasan yang terjadi pada peserta didik di sekolah dapat mengakibatkan dampak psikis yaitu:
  1. Trauma psikologis, rasa takut, rasa tidak aman, dendam, menurunnya semangat belajar, daya konsentrasi, kreativitas, hilangnya inisiatif, serta daya tahan (mental) siswa, menurunnya rasa percaya diri, inferior, stress, depresi dsb.
  2. Siswa yang mengalami tindakan kekerasan pelecehan seksual tanpa ada penanggulangan, bisa saja menarik diri dari lingkungan pergaulan, karena takut, merasa terancam dan merasa tidak bahagia berada diantara teman-temannya.
  3. Sebagai korban, mereka kehilangan haknya atas pendidikan, dan haknya untuk bebas dari segala bentuk kekerasan fiisik dan mental yang tidak manusiawi.
E.    Cara Mencegah Kekerasan Pelecehan Seksual Pelajar di Sekolah

Adapun cara mencegah kekerasan pelecehan seksual di Sekolah antara lain sebagai berikut:
1.    Menunjukan sikap tegas terhadap segala bentuk perilaku yang mencurigakan.
2.    Selalu bersikap waspada dengan siapapun.
3.    Hindari melamun saat di sekolah, dan selalu bersama teman-teman.
4.    Berpakaian sewajarnya, sopan dan tidak ketat.
5.    Berlatih bela diri jika diperlukan.
6.    Tidak mudah menerima ajakan untuk berpergian atau menginap ditempat asing.
7.    Jangan mudah menumpang kendaraan orang yang belum dikenal.
8.    Berhati-hati jika diberi minum orang.

MENINGKATKAN KOMPETENSI PROFESIONAL GURU PAI

A.    Pengertian Kompetensi Profesional Guru PAI

Kata profesional berasal dari profesi yang artinya suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjut di dalam science dan teknologi yang digunakan sebagai prangkat dasar untuk di implementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat. Sedang persyaratan seseorang yang professional menurut Uzer Usman adalah sebagai berikut.
  1. Menuntut adanya keterampilan yang berdasarkan konsep dan teori ilmu pengetahuan yang mendalam.
  2. Menemukan pada suatu keahlian dalam bidang tertentu sesuai dengan bidang profesinya.
  3. Menuntut adanya tingkat pendidikan keguruan yang memadai.
  4. Adanya kepekaan terhadap dampak kemasyarakatan.
  5. Memungkinkan perkembangan sejalan dengan dinamika kehidupan.
  6. Memiliki kode etik sebagai acuan dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.
  7. Memiliki klien/objek layanan yang tetap, seperti guru dengan muridnya.
  8. Diakui oleh masyarakat, karena memang jasanya perlu dimasyarakatkan.

Menurut Harefa ada tiga belas indikator sehingga seseorang dikatakan sebagai profesional yaitu sebagai berikut.
  1. Bangga pada pekerjaan, dan menunjukkan komitmen pribadi pada kualitas.
  2. Berusaha meraih tanggunjawab.
  3. Mengantisipasi, dan tidak menunggu perintah, mereka menunjukkan inisiatif.
  4. Mengerjakan apa yang perlu dikerjakan untuk merampungkan tugas.
  5. Melibatkan diri secara aktif dan tidak sekedar bertahan pada peran yang telah ditetapkan untuk mereka.
  6. Selalu mencari cara untuk membuat berbagai hal menjadi lebih mudah bagi orang-orang yang mereka layani.
  7. Ingin belajar sebanyak mungkin.
  8. Benar-benar mendengarkan kebutuhan orang-orang yang mereka layani.
  9. Belajar memahami dan berfikir seperti orang-orang yang mereka layani sehingga bisa mewakili mereka ketika orang-orang itu tidak ada di tempat.
  10. Mereka adalah pemain tim.
  11. Bisa dipercaya memegang rahasia.
  12. Jujur bisa dipercaya dan setia.
  13. Terbuka terhadap kritik-kritik yang membangun mengenai cara meningkatkan diri.
Dari indikator yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa professional itu adalah seseorang yang dipercaya memiliki kemampuan khusus untuk melakukan satu bidang kerja dengan hasil kualitas yang tinggi berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya tentang objek pekerjaannya tersebut.
Jika disandangkan kata profesional kepada guru, maka menurut Danim, “guru profesional adalah guru yang memiliki kompotensi tertentu sesuai dengan persaratan yang dituntut oleh profesi keguruan”. 

B.    Peningkatkan Profesional Guru PAI

Kemampuan atau profesionalitas guru (termasuk guru agama) menurut Mohammad Uzer Usman meliputi hal-hal berikut ini:
  1. Menguasai landasan kependidikan
  2. Menguasai bahan pengajaran
  3. Menyusun program pengajaran
  4. Melaksanakan program pengajaran
  5. Menilai hasil belajar mengajar yang telah dilaksanakan 
Seorang guru Agama yang profesional hendaknya berusaha untuk menarik minat belajar siswa, walaupun pada kenyataannya tidak semua materi yang di sampaikan oleh guru disukai siswa. Beberapa cara membangkitkan minat belajar siswa, yaitu :
  1. Mengajar dengan cara menarik.
  2. Mengadakan selingan yang sehat.
  3. Menggunakan alat peraga.
  4. Sedapat mungkin menghilangkan sesuatu yang menyebabkan perhatian yang tak perlu.
  5. Dapat menunjukkan kegunaan bahan pelajaran yang di berikan.
  6. Berusaha mengadakan hubungan antara apa yang sudah ada diketahui murid dengan yang akan diketahuinya.
 C.    Ruang Lingkup Kompetensi Profesional Guru PAI

Dari berbagai sumber yang membahas tentang kompetensi guru, secara umum dapat diidentifikasi dan disarikan tentang ruang lingkup kompetensi profesional guru sebagi berikut:
  1. Mengerti dan dapat menerapkan landasan kependidikan baik filosofi, psikologis, sosiologis, dan sebagainya.
  2. Mengerti dan dapat menerapkan teori belajar sesuai taraf perkembangan peserta didik.
  3. Mampu menangani dan mengembankan bidang studi yang menjadi tanggung jawabnya.
  4. Mengerti dan dapat menerapkan metode pembelajaran yang bervariasi.
  5. Mampu mengembangkan dan menggunakan berbagai alat, media dan sumber belajar yang relevan.
  6. Mampu mengorganisasikan dan melaksanakan program pembelajaran.
  7. Mampu melaksanakan evaluasi hasil belajar peserta didik.
  8. Mampu menumbuhkan kepribadian peserta didik.
Sedangkan secara lebih khusus, kompetensi profesional guru dapat dijabarkan sebagai berikut:
  1. Memahami Standar Nasional Pendidikan, yang meliputi: standar isi, standar proses, standar kompetensi kelulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan.
  2. Mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan
  3. Menguasai materi standar
  4. Mengelola program pembelajaran
  5. Mengelola kelas
  6. Menggunakan media dan sumber pembelajaran
  7. Menguasai landasan-landasan kependidikan
  8. Memahami dan melaksanakan pengembangan peserta didik
  9. Memahami dan menyelenggarakan administrasi sekolah, yang meliputi pemahaman tentang penyelenggaraan administrasi sekolah dan penyelenggaraan administrasi sekolah.
  10. Memahami penelitian dalam pembelajaran, yang meliputi mengembangkan rancangan penelitian, melaksanakan penelitian, dan menggunakan hasil penelitian untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
  11. Menampilkan keteladanan dan kepemimpinan dalam pembelajaran dengan memberikan contoh perilaku keteladanan dan mengembangkan sikap disiplin dalam pembelajaran.
  12. Mengembangkan teori dan konsep dasar kependidikan dengan mengembangkan teori-teori kependidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik dan mengembangkan konsep-konsep dasar kependidikan yang relevan dengan kebutuhan peserta didik.
  13. Memahami dan melaksanakan konsep pembelajaran individu, yang meliputi memahami strategi pembelajaran individual dan melaksanakan pembelajaran individual.
D.    Kompetensi Profesional Bersifat Psikologis

1.    Kompetensi Kognitif Guru
Secara kognitif, guru hendaknya memiliki kapasitas kognitif tinggi sehingga menunjang kegiatan pembelajaran yang dilakukannya. Misalnya adanya keterbukaan guru dalam berfikir dan beradaptasi. Selain itu ada dua hal yang harus dikuasai pendidik yaitu Ilmu pengetahuan kependidikan yang menunjang dalam menunjang proses belajar mengajar dan ilmu pengetahuan materi bidang studi yaitu meliputi semua bidang studi yang akan menjadi keahlian yang akan diajarkan oleh guru.

2.    Kompetensi Afektif Guru
Secara efektif guru hendaknya memiliki sikap dan perasaan yang menunjang proses pembelajaran yang dilakukannya, baik terhadap orang lain terutama maupun terhadap dirinya sendiri misalnya guru memiliki sikap dan sifat empati, ramah dan bersahabat.

3.    Kompetensi Psikomotor Guru
Kompetensi psikomotor seorang guru merupakan ketrampilan atau kecakapan yang bersifat jasmaniah yang dibutuhkan oleh guru untuk menunjang kegiatan profesionalnya sebagai guru, seperti duduk, berjalan, dalam bentuk mengekspresikan diri secara verbal maupun nonverbal.

MENYUSUN SISTEM INFORMASI UNTUK PENDIDIKAN UNTUK SEKOLAH

A.    Pengertian Sistem Informasi untuk Pendidikan untuk Sekolah

Beberapa pengertian sistem informasi menurut Wikipedia Indonesia, 2010 adalah:
  1. Sistem Informasi adalah sekumpulan hardware, software, brainware, prosedur atau aturan yang diorganisasikan secara integral untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat guna memecahkan masalah dan pengambilan keputusan
  2. Sistem informasi adalah sekumpulan komponen pembentuk sistem yang mempunyai keterkaitan antara satu komponen dengan komponen lain yang bertujuan menghasilkan suatu informasi dalam suatu bidang tertentu.
Pendidikan adalah bimbingan yang diberikan kepada seseorang agar ia berkembang secara maksimal.
Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sistem informasi untuk pendidikan untuk sekolah adalah suatu sistem dalam sekolah yang merupakan kombinasi yang terdiri dari manusia, fasilitas, teknologi dan pengendalian yang berfungsi untuk mengolah data menjadi informasi yang bermanfaat dalam proses mendidik atau membimbing dari guru kepada peserta didik.

B.    Komponen Sistem Informasi dalam Sekolah

Sistem informasi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sistem informasi manual dan sistem informasi berbasis komputer atau lebih dikenal dengan computer based information system (CBIS).
Komponen-komponen Sistem informasi berbasis komputer terdiri dari sumber daya-sumber daya sebagai berikut:
  1. Manusia dibutuhkan untuk mengoperasikan sistem informasi.
  2. Hardware adalah peralatan yang digunakan dalam pemrosesan informasi.
  3. Software adalah rangkaian perintah untuk memproses informasi.
  4. Data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan kesatuan yang nyata yang belum mempunyai makna.
  5. Jaringan merupakan media komunikasi yang menghubungkan computer, pemroses komunikasi dan peralatan lainnya

C.    Langkah penyusunan Sistem Informasi untuk Pendidikan untuk Sekolah

Tahap-tahap untuk menyusun sistem informasi untuk pendidikan untuk sekolah adalah sebagai berikut.
  • Tahap masukan
  1. Pegumpulan data dimulai dengan penangkapan data kemudian data ditarik ke dalam sistem
  2. Mencatat data (recorder) pada formulir-formulir yang disebut sebagai sumber dokumen.
  3. Data diklasifikasikan untuk dimasukkan dalam kategori-kategori yang telah ditentukan.
  4. Data dapat ditransmisikan/dipindahkan  dari titik tangkapan ke titik pemrosesan.
  • Tahap pemrosesan atau pengolahan
  1. Data divalidasi dan diklasifikasikan menurut bagian-bagiannya
  2. Diproses oleh manusia sebagai pengguna teknologi
  3. Data yang telah diproses kemudian disimpan
  • Tahap keluaran
Tahap yang terakhir adalah tahap keluaran yaitu menyediakan informasi ke pengguna. informasi yang telah diolah kemudian menghasilkan data yang dapat disajikan kepada semua pihak yang berkepentingan, dalam hal ini yaitu oleh siswa untuk tujuan pendidikan.

D.    Contoh Sistem Informasi untuk Pendidikan untuk Sekolah

Contoh aplikasi penggunaan sistem informasi untuk pendidikan untuk sekolah diantaranya adalah:
  • E-Education
E-Education merupakan salah satu pembelajaran on-line yang menggunakan internet untuk menyampaikan bahan ajar kepada siswa yang dipisahkan oleh waktu atau jarak, atau keduanya (Dempsey & Eck, 2002).
  • E-Learning
Kegiatan E-Learing adalah mengunjungi berbagai situs dalam rangka update pengetahuan, sehingga dapat mencari dan menemukan informasi yang diperlukan dari sedemikian banyak sumber informasi dengan cara tepat yakni efektif dan efisien merupakan inti dari E-Learning.
  • E-Qari
E-Qari ialah Sistem Pembelajaran Quran Interaktif dimana siswa tidak lagi perlu menghadiri kelas untuk belajar Al-Quran, walaupun begitu siswa masih dapat bimbingan dan petunjuk dari guru secara online.
  • Virtual Gamelan
Virtual gamelan adalah program yang berisikan komponen-komponen gamelan yang dapat dimainkan seperti memainkan gamelan asli, program ini menggunakan bantuan komputer.

Fasilitas di Internet yang dapat digunakan untuk pembelajaran adalah:
1.    Pembelajaran synchronous
  1. Tele conference adalah pembelajaran yang dikembangkan melalui internet di mana pembelajar berkumpul pada suatu tempat dan instruktur berada pada tempat yang terpisah dan komunikasi dilangsungkan melalui internet dengan menggunakan kamera dan audio.
  2. Netmeeting, hampir menyerupai tele conference, pembelajar juga dipisahkan oleh tempat, dan komunikasi dilangsungkan melalui internet dengan menggunakan kamera dan audio.
  3. Chatting merupakan kegiatan pembelajaran yang dilakukan melalui fasilitas chat-room, di mana instruktur dan pembelajar terhubung melalui internet pada waktu yang bersamaan, dan komunikasi dilakukan secara tertulis.
2.    Pembelajaran asynchronous
  1. Email yaitu pembelajaran dilakukan melalui surat menyurat (elektronik/internet) antara pendidik dengan peserta didik.
  2. Message board merupakan pembelajaran dilakukan secara tertulis melalui fasilitas papan pesan.
  3. Mailing list adalah pembelajaran dilakukan melalui surat menyurat (elektronik/internet) antara pendidik dengan peserta didik, dimana seluruhnya tergabung dalam kelompok mailing list.
  4. WWW adalah pembelajaran yang dikembangkan melalui berbagai situs yang terdapat di internet.
E.    Kendala dalam Penyusunan Sistem Informasi Pendidikan untuk Sekolah

Ada beberapa kendala dalam penyusunan Sistem Informasi untuk Pendidikan untuk Sekolah, diantaranya:
  1. Masih belum memadainya sarana/prasarana sekolah.
  2. Masih kurangnya SDM yang memahami dan menguasai konsep dan implementasi sistem dan teknologi informasi.
  3. Belum adanya aturan yang jelas dari pemerintah.
  4. Etika dan moralitas masih belum mendapat tempat yang memadai.
  5. Sulitnya mengubah perilaku siswa yang cenderung pasif untuk menghadapi pola siswa aktif.
F.    Manfaat Sistem Informasi untuk Pendidikan untuk Sekolah

Beberapa manfaat dari adanya sistem informasi pendidikan di sekolah antara lain:
  1. Membantu dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah.
  2. Meningkatkan daya saing sekolah juga dapat meningkatkan pelayanan bagi para peserta didik di lingkungan sekolah bersangkutan.
  3. Memberikan contoh langsung pemanfaatan teknologi informasi dalam kehidupan sehari-hari.
  4. Menyederhanakan dan mempermudah kegiatan belajar mengajar
  5. Mempercepat pelayanan terhadap siswa maupun pihak-pihak yang terkait dengan sekolah.
  6. Tujuan dari sistem informasi adalah agar pengelolaan data dan informasi sebuah organisasi dapat menyeluruh, terintegrasi, terpadu dan menghasilkan informasi  cepat dan akurat.

PENDIDIKAN JARAK JAUH (DISTANCE LEARNING)

A.  Pengertian Pendidikan Jarak Jauh

Pengertian Pendidikan jarak jauh menurut UU Nomor 20 adalah pendidikan yang peserta didiknya terpisah dari pendidik dan pembelajarannya menggunakan berbagai sumber belajar melalui teknologi informasi dan komunikasi dan media lain. Pendidikan jarak jauh adalah suatu model pembelajaran yang membebaskan peserta didik untuk dapat belajar tanpa terikat oleh ruang dan waktu dengan sedikit bantuan dari orang lain.

Adapun ciri khas utama pendidikan jarak jauh yaitu:
  1. adanya jarak yang jauh antara pendidik dengan peserta didik
  2. individualisasi dan kemandirian dalam belajar.
  3. adanya bahan belajar yang biasanya dikembangkan sendiri oleh lembaga penyelenggara pendidikan jarak jauh
  4. penggunaan berbagai media pembelajaran
  5. adanya bantuan belajar yang berupa tutorial dan bantuan belajar lain yang terbatas
  6. adanya proses industrialisasi dalam pengembangan, pengadaan dan distribusi bahan belajar.

B. Karakteristik Pendidikan Jarak Jauh 

Menurut Keegan (1984) dalam A.P. Hardhono (2002) karakteristik pendidikan jarak jauh adalah:
  1. adanya keterpisahan mendekati permanen antara tenaga pengajar dari peserta didik selama program pendidikan
  2. adanya keterpisahan yang mendekati permanen antara seorang peserta didik dari peserta didik lain selama program pendidikan
  3. adanya suatu institusi yang mengelola program pendidikan
  4. pemanfaatan sarana komunikasi baik mekanis maupun elektronis untuk menyampaikan bahan belajar
  5. penyediaan sarana komunikasi dua arah sehingga peserta didik dapat mengambil inisiatif dialog dan mengambil manfaatnya.
Karakteristik pendidikan jarak jauh  lainnya adalah :
  1. Menjangkau semua peserta didik dimanapun berada.
  2. Proses pembelajaran dilakukan secara mandiri.
  3. Sumber belajar adalah bahan-bahan yang dikembangkan secara sengaja sesuai kebutuhan dengan tetap berpedoman pada kurikulum.
  4. Interaksi pembelajaran bisa dilaksanakan secara langsung dalam suatu pertemuan. Bisa pula secara tidak langsung dengan bantuan tutor atau pendidik dalam forum tutorial.
  5. Waktu yang digunakan tepat sesuai jadwal dan program yang telah ditentukan.
  6. Bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap peserta didik.
  7. Program disusun disesuaikan dengan jenjang, jenis, dan sifat pendidikan.
  8. Penilaian dilakukan sendiri (self evaluation).
 C. Prinsip Pendidikan Jarak Jauh

Prinsip dan bentuk program pendidikan jarak jauh :
  1. Bertujuan meningkatkan mutu kemampuan para peserta didik sesuai dengan bidang kemampuan, minat dan bakatnya masing-masing.
  2. Memperluas kesempatan belajar dan meningkatkan jenjang pendidikan peserta.
  3. Meningkatkan efisiensi dalam sistem penyampaian melalui media  modular dengan bantuan, radio, tv, film, video, komputer dan internet.
  4. Berdasarkan kebutuhan lapangan dan kondisi lingkungan.
  5. Berdasarkan kesadaran dan keinginan peserta didik dan menekankan pada belajar mandiri yang berdasar pada aktuallisasi diri, percaya diri bergantung pada kemampuan sendiri agar berhasil dalam studinya.
  6. Dikembangkan dalam paket terpadu dan dilaksanakan secara terpadu pada tingkat kelembagaan.
D. Penerapan TIK dalam Pendidikan Jarak Jauh 

Perkembangan TIK telah mendorong berkembangnya pendidikan jarak jauh, karena keterpisahan jarak maka dalam  pendidikan jarak jauh materi pembelajaran dikembangkan, dikemas dan disampaikan melalui media dalam berbagai jenis dengan memanfaatkan TIK sehingga dapat digunakan peserta didik untuk belajar mandiri. TIK dimanfaatkan secara optimal dalam fungsinya sebagai media pendidikan jarak jauh dan juga untuk memfasilitasi manajemen pendidikan.

Media teknologi tersebut dapat berupa media cetak, radio, televisi, computer, masyarakat awam, maupun orang tua atau media lain yang dapat digunakan untuk mengemas materi pembelajaran. Kehadiran media yang berbasis TIK dalam sistem pendidikan jarak jauh menurut Atwi Suparman dan Aminuddin Zuhairi (2004: 185) berfungsi sebagai sumber belajar utama seperti halnya guru dalam pembelajan konvensional.

Pemanfaatan sarana media yang berbasis TIK ini memungkinkan terjadinya interaksi dan komunikasi antara peserta didik dengan tenaga pengajar atau dengan bahan belajar, bahkan dengan penyelenggaraan sistem pendidikan jarak jauh. Dengan demikian peserta dan sarana komunikasi dua arah tersedia, sehingga memungkinkan peserta didik dan tenaga pengajarnya dapat berinteraksi untuk membahas materi pembelajaran.

Peran TIK beserta infrastrukturnya dalam pendidikan jarak jauh yaitu untuk menyajikan materi pembelajaran dan menyediakan sarana komunikasi atau interaksi antara institut pendidikan jarak jauh dengan peserta didik. TIK yang dapat dimanfaatkan untuk pendidikan jarak jauh adalah siaran radio, televisi, telekonferensi, pembelajaran berbantuan komputer atau multi media melalui jaringan komputer. Materi pembelajaranya dapat dikemas dengan menggunakan media cetak atau modul dan audio/video kaset. Menurut Wedemeyer (1979) pemanfaatan TIK bertujuan untuk :
  1. Membebaskan peserta didik dari pola pembelajaran reguler
  2. Membuka kesempatan belajar sesuai kemampuan
  3. Membangun suatu pola pembelajaran yang membimbing peserta didik melaksanakan self directed learning. 
Pendayagunaan komputer dalam program pendidikan jarak jauh bukan saja menjadi suatu kebutuhan, akan tetapi sekaligus merupakan suatu keharusan, baik dalam administrasi maupun dalam edukasi, pertimbangannya adalah :
  1. Data dan informasi tentang peserta didik dan tutor membutuhkan ketelitian dan ketepatan yang maksimal, agar dapat segera dikombinasikan dalam jangka waktu relatif cepat.
  2. Pelaksaan kegiatan kurikuler, bimbingan tutorial, kegiatan penilaian, pengadaan dan pemakaian bahan bacaan, serta alat bantu dan kegiatan pembelajaran lebih menekankan belajar mandiri, sehingga perlu pendataan dan pengolahan yang cepat dan akurat.
  3. Pendayagunaan komputer dalam program pendidikan jarak jauh merupakan salah satu sarana/prasarana yang penting guna lebih memperlancar sistem komunikasi informasi.
  4. Kebutuhan inovasi, penyesuaian dan pengembangan sistem pendidikan nasional dewasa ini meminta perhatian yang sungguh-sungguh dalam pendayagunaan TIK.

E. Komponen Sistem Pendidikan Jarak Jauh
  1. Peserta didik
  2. Materi pembelajaran yang dirancang khusus untuk keperluan sistem pendidikan jarak jauh sesuai kebutuhan peserta didik
  3. Pembimbing, tutor, fasilitator yang memberikan bantuan kepada peserta didik sewaktu-waktu secara berkala ketika peserta didik menghadapai kesulitan dalam mengerjakan tugas, latihan, atau soal
  4. Tempat belajar peserta didik tidak wajib datang ke sekolah setiap hari, maka peserta didik bisa belajar di mana saja.

F. Kelebihan Sistem Pendidikan Jarak Jauh
  1. Menjangkau target yang telah ditentukan.
  2. Memberikan kesempatan yang luas dalam rangka pelayanan terhadap perbedaan individual peserta didik.
  3. Tidak membutuhkan ruangan kelas dan semua jenis perlengkapannya, kerangka kegiatan belajar lebih banyak dilakukan di rumah atau di tempat lainnya.
  4. Tidak memerlukan guru khusus yang bertugas mengajar secara berkesinambungan.
  5. Bahan belajar yang disiapkan dalam bentuk modul yang disiapkan oleh pengelola.
  6. Memberikan kesempatan yang luas kepada peserta didik untuk belajar mandiri secara aktif.
  7. Lebih efisien dan ekonomis, karena waktu belajarnya tidak terstruktur. 

G. Kelemahan Pendidikan Jarak Jauh
  1. Persiapan dan perencanaan program lengkap dengan semua perangkatnya memerlukan waktu dan pembiayaan yang cukup banyak serta mendayagunakan tenaga ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu.
  2. Menuntut peserta didik belajar mandiri, yang memerlukan motivasi belajar tinggi.
  3. Peserta didik tidak dapat berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan pengajar.
  4. Modul disusun secara terpusat
  5. Sistem evaluasi peserta didik yang tidak diawasi oleh pembimbing menekankan kejujuran peserta didik.

PENDIDIKAN SEBAGAI SISTEM INFORMATIKA

A.    Pengertian Pendidikan sebagai Sistem Informatika

Pengertian pendidikan dalam Kamus besar bahasa Indonesia merupakan proses mengubah sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan (proses, perbuatan, dan cara mendidik).

Sistem informasi adalah suatu proses yang didalamnya terdapat unsur-unsur yang berhubungan dengan komputerisasi meliputi hardware, software, dan brainware yang saling berhubungan dan terintegrasi satu dengan yang lain dan bekerja sesuai dengan fungdinya untuk mengatur dan menangani masalah yang ada.

Dari pengertian tersebut, pendidikan sebagai sistem informasi artinya usaha sadar dan terencana untuk mengubah sikap seseorang menuju kedewasaan dengan mewujudkan suasana belajar yang mendorong siswa aktif mengembangkan potensi dirinya dengan memanfaatkan unsure-unsur komputerisasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. 

B.    Ciri-Ciri Pendidikan sebagai Sistem Informatika
  1. Kurikulum pendidikan dibuat sesuai dengan perkembangan jaman.
  2. Menganggap informasi sebagai suatu kebutuhan.
  3. Memanfaatkan system informatika dalam menyelesaikan tugas.
  4. Menggunakan berbagai media informasi dalam belajarmengajar.
  5. Menjadikan pendidikan sebagai upaya memperkenalkan system informatika yang terus berkembang.
  6. Mengupayakan SDM untuk terus mempelajari system informatika.
  7. Adanya pelatihan dan bimtek dalam kehidupan sehari-hari.
C.    Peran Pendidikan sebagai Sistem Informatika
  1. Memasyarakatkan ideology dan nilai sosio-kultural bangsa.
  2. Mempersiapkan tenaga kerja untuk memerangi kemiskinan, kebodohan, dan mendorong adanya perubahan social.
  3. Mengefektifkan system informatika agar tepat sasaran.
  4. Memberikan informasi mengenai perkembangan system informatika.
  5. Memperluas pengetahuan.

D.    Faktor Pendukung Pendidikan sebagai Sistem Informatika 
  1. Sarana dan prasarana yangmemudahkan akses informasi dimana saja dan dengan kecepatan yang mencukupi.
  2. SDM untuk menunjang kegiatan pendidikan.
  3. Kebijakan yang mendukung perkembangan teknologi informasi jangka panjang.
  4. Financial yang menyokong pendidikan dalam menciptakan system informasi.
  5. Konten dan aplikasi untuk menyampaikan informasi dengan nyaman.
E.    Faktor Penghambat Pendidikan sebagai Sistem Informatika
  1. Rendahnya kesadaran dalam memanfaatkan dan mengembangkan system informasi.
  2. Akses informasi yang tidak merata.
  3. Penyebaran informasi yang tidak terkendali yang bias merusak moral siswa.

PENGEMBANGAN KOMPETENSI KOMUNIKASI GURU PAI

A.    Pengertian Pengembangan Kompetensi Komunikasi Guru PAI

1.    Kompetensi 

Kompetensi berarti kecakapan, kompetensi, dan kewenangan. Kompetensi guru juga berarti suatu kemampuan atau kecakapan yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang dimiliki dan dikuasai oleh guru dalam melaksanakan fungsi profesionalnya.
Kompetensi pendidik menurut PP Nomor 19 tahun 2005 meliputi:
  1. Kompetensi Pedagogic, yang terdiri dari pemahaman tentang peserta didik, tentang pendidikan, pembelajaran, dan kurikulum sekolah, membuat perancangan pembelajaran, menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, mengevaluasi proses dan hasil belajar, peningkatan proses pembelajaran melalui penelitian, dan pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasi potensi yang dimiliki.
  2. Kompetensi Kepribadian guru yang mantap, stabil, dewasa, arif, berwibawa, menjadi teladan bagi peserta didik dan berakhlak mulia serta siap mengikuti perkembangan ilmu dan kependidikan melalui berbagai media komunikasi.
  3. Kompetensi Professional, meliputi pendalaman penguasaan bidang studi yang telah dimiliki untuk mendukung terlaksananya pembelajaran bidang studi disekolah sasaran secara optimal.
  4. Kompetensi social merupakan kemampuan guru dalam berkomunikasi atau dalam berhubungan dengan para siswanya, sesama teman guru, kepala sekolah, pegawai tata usaha, dan dengan anggota masyarakat dilingkungannya

Berkaitan dengan hubungan sosial guru dan siswa maka perlu ada upaya-upaya dalam meningkatkan kompetensi sosialnya yang akan diuraikan sebagai berikut:
  1. Mengembangkan kecerdasan social baik bagi guru maupun siswanya dengan memiliki keterbukaan dalam bertindak, menjaga kejujuran, memunculkan rasa saling menjaga, saling membutuhkan, dan saling berguna dengan menghargai perbedaan, sehingga berkembang keunikan, kreativitas, dan individualisasinya.
  2. Mengikuti pelatihan berkaitan dengan kompetensi sosial guru sehingga dapat bekerja dengan tim, melihat peluang, berperan dalam kegiatan kelompok, tanggung jawab sebagai warga, kepemimpinan, relawan sosial, kedewasaan dalam berelasi, berbagi, berempati, kepedulian kepada sesama, toleransi, solusi konflik, menerima perbedaan, kerjasama, dan komunikasi.
  3. Beradaptasi di tempat bertugas.

2.    Komunikasi

Komunikasi adalah suatu proses penyampaian informasi (pesan, ide, gagasan) dari satu pihak kepada pihak lain. Komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Tetapi komunikasi juga dapat dilakukan dengan menggunakan gerak-gerik badan, menunjukkan sikap tertentu yang disebut komunikasi nonverbal. Bagi guru, kemampuan berkomunikasi merupakan syarat yang harus dimiliki. Dengan berkomunikasi, maka akan terjadi pertukaran informasi timbal balik antara guru dengan siswanya.
Menurut Kemp (1977) ada empat faktor yang sangat menentukan keberhasilan komunikasi, yaitu:
  1. Audience atau sasaran.
  2. Behaviour atau perilaku yang diharapkan dari sasaran setelah berlangsung dan selesainya komunikasi.
  3. Condition atau kondisi sasaran ketika komunikasi sedang berlangsung.
  4. Degree atau tingkatan maksudnya sampai tingkatan manakah target bahan komunikasi yang harus dikuasai oleh sasaran itu sendiri.

Komunikasi efektif dalam pembelajaran PAI merupakan proses transformasi pesan berupa ilmu pengetahuan dan teknologi dari pendidik kepada peserta didik, dimana peserta didik mampu memahami maksud pesan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan, sehingga menambah wawasan ilmu pengetahuan dan teknologi serta menimbulkan perubahan tingkah laku menjadi lebih baik.

Beberapa tahapan dalam berkomunikasi sebagai berikut:
  1. Tahap Ideasi (Ideation), yaitu tahap proses penciptaan gagasan, pesan atau informasi.
  2. Tahap Penyandian (Encoding), yaitu proses penyusunan gagasan atau pesan menjadi suatu bentuk informasi (simbol, lambang, sandi) yang akan dikirimkan.
  3. Tahap Pengiriman (Transmitting), merupakan kegiatan penyampaian pesan atau informasi yang terjadi di antara peserta komunikasi. Pengiriman pesan dapat disampaikan secara langsung atau melalui media.
  4. Tahap Penerimaan (Receiving), yakni proses penerimaan atau pengumpulan pesan yang terjadi pada para peserta komunikasi.
  5. Tahap Penafsiran (Decoding), yakni usaha pemberian arti melalui proses berpikir, berusaha menafsirkan informasi yang telah terkumpul dalam pikirannya terhadap informasi/pesan di antara peserta komunikasi.
  6. Tahap Respon (Pemberian Tanggapan), merupakan tindak lanjut dari penafsiran yang telah dilakukan, yakni pemberian reaksi terhadap pesan yang telah disampaikan.
  7. Tahap Balikan (Feedback), berlangsung seiring dengan tahap-tahap komunikasi lainnya, yang berupa gejala atau fenomena yang dapat dijadikan petunjuk keberhasilan atau kegagalan suatu proses komunikasi.

3.    Efektifitas komunikasi antar pribadi
Dalam kegiatan pembelajaran,komunikasi antar pribadi merupakan suatu keharusan, agar terjadi hubungan antara pengajar dengan peserta belajar. Keefektifan komunikasi dalam kegiatan pembelajaran sangat tergantung dari kedua belah pihak. Akan tetapi karena guru yang memegang kendali kelas, yang bertanggung jawab terjadinya komunikasi dalam kelas. Keberhasilan guru dalam mengemban tanggung jawab tersebut dipengaruhi oleh keterampilannya dalam melakukan komunikasi.
Hal ini tergantung pada pribadi penerima maupun pengirim pesan seperti yang dijelaskan berikut ini:
  1. Keterbukaan, mencakup aspek keinginan untuk terbuka bagi setiap orang yang berinteraksi dengan orang lain, dan keinginan untuk menanggapi secara jujur semua stimulus yang datang kepadanya.
  2. Empati, yaitu merasakan sebagaimana yang dirasakan oleh orang lain atau mencoba merasakan dalam cara yang sama dengan perasaan orang lain.
  3. Dukungan, adakalanya diucapkan dan tidak diucapkan.
  4. Kepositifan, mencakup adanya perhatian yang positif terhadap diri seseorang, suatu perasaan positif itu dikumunikasikan, dan mengefektifkan kerjasama.
  5. Kesamaan, mencakup kesamaan suasana dan kedudukan antara orang-orang yang berkomunikasi.

B.    Problem-Problem Komunikasi dalam Pembelajaran PAI
  1. Perbedaan sudut pandang cara memahami atau cara berfikir antara pendidik dan peserta didik dalam proses komunikasi khususnya pada mata pelajaran PAI.
  2. Guru hanya mementingkan aspek kognitif peserta didik tanpa mengoptimalkan perkembangan aspek psikomotor dan afektifnya.
  3. Guru kurang mampu berkomunikasi dengan baik sehingga makna pelajaran kurang tersampaikan.
  4. Guru kurang mampu tampil dengan baik dalam hal gaya,cara atau metode mengajar secara optimal dalam menjalankan tugasnya.
  5. Guru kurang memberi motivasi kepada peserta didik agar anak untuk dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar.
  6. Guru menganggap peserta didik sebagai obyek, bukan sebagai subyek

Sabtu, 19 November 2011

FACEBOOK OH FACEBOOK (prepared to fill the article in the bulletin mumtaza)*

Facebook  is one social networking of a trend/boom in Indonesia today, at least since the last 3 years (2008). The author will highlight on some of the negative impacts are arising from these social networking via the Internet on social problems.


Facebook now starting to infect from students to educators, the main reason as pretext they are to add friends and contact them online. But ironically FB (Facebook) actually makes the other person is isolated or trigger other people to isolate themselves, to refrain from social interaction directly.


Due in fact, something to be bland and when each individual is no longer attending events related to social interaction directly, attending meetings with friends or even family and prefer to linger in front sat a computer connected to the Internet network or in front of the phone , in order to write the status or update the status and hopes with comments that appear. When he finally parted with the internet (offline), when interacting directly with friends, school, college and work then there is the anxiety and the anxiety to get back to connect to facebook. So once we have encountered many students, college students, office workers and even teachers / lecturers are often times when doing the activity, not the focus of the work being done by our occasional uncomfortable seeing that concerned many times to see cell phones that connect Internet.


According to researcher Dr. Sigman in the journal biologist (www.dailymail.co.uk), one user who was friends with new people in the world of facebook will have difficulty in communicating face-to-face (direct communication). And this behavior may increase the risk of serious health, such as cancer, stroke and heart disease and dementia.


On television too often we witness the impact of crimes committed through the media like facebook abduction, fraud, rape, murder and so on. This can be caused because users are too trusting and feel close to new friends who do not know the actual circumstances and conditions. In addition, because of the lack of directly interacting with other people so prone to deception and seduction consumed will be even greater.


As at end March 2011 that recently we have seen in some news media, having been married for 6 months, found out that his wife of a man. But oddly enough why the new note after 6 months after marriage if his wife a man? Because of garanya also only know through facebook and overconfidence in every news and pictures. Later married and every time you make a relationship couples to do through the back, (that's room rather than behind) which clearly it is contrary to the teachings of Islam. In the end this marriage clearly and false facades.


There are stories of my friends fellow teacher at the school, he told a friend recently, who are dependent in their daily life to always update the status and write comments of friends on social networks, so that duties and obligations of daily life are often overlooked, be inclined more lazy and often spend a pulse to the internet. And a peak of her anger when the current rise in grade son who had entered primary school, children get bad grades and no grade. His wife made the target to the husband (a friend of my friend) because it is familiar with facebook since he neglects attention to the interests and guidance that should he devoted to his family.


And more tragic story told in vent posted on a website (I forget the address), thanks to facebook become a means of infidelity and divorce finally happened, so who are victims of not only themselves but also as a child of God entrusted to his parents. Because of garanya too loose on the porch in writing something that is (supposedly) private, that can be accessed by many people. An absurdity when it was so no idea what to write diberanda or because a high level so that the writing emotions diberandanya personal problems. Tragically, in question would know if his writing would be read by people who are not interested, but unbeatable with lust. And many more negative things that arise as a result we can not filter the news (not to sharing), can not map the problem, assess the actual condition, and so forth so that it could be the lack of progress of Information and Technology was getting hurt ourselves. Naudzubillahi min dzalik.


Facebook as a social networking tool is fine only if utilized as a condiment or a kind of entertainment in life is to improve the quality of life, but this was often misused or misunderstood point into something addictive and add laziness to interact directly with people other.


We're not talking about haram halal facebook, let the Majlis Legal Affairs Committee or a MUI are more competent in formulating the contemporary Islamic law like this. But according to the opinion of the writer, the media could be prohibited when the offender uses with the purpose of evil, vanity, or vice and can be permissible or halal when players use it for propaganda media call to virtue and to prevent the evil, containing maslahah, the goodness of self and others , self-improvement, and everything that is important beneficial.


Conclusion:
We as Muslims who are learning more about the teachings of Islam and Islamic religious instruction through the university, should be an example to be able to put something in place. Let us work, channeling our ideas to the maximum extent possible origin as much as we are responsible and beneficial to themselves and others. Can through Facebook, Blog, Website, Magazine wall, writing articles in the media and so on. No matter when facebook used as medium of propaganda and widen the relations and increase business.  

However, given the negative impacts such as from a health standpoint, the direct interaction with the community, awareness of rights and obligations running into displaced from their primary function as well as much evil he creates, then let us be careful and be self-limiting and controlling ourselves in the use of this medium. My last message, write something useful that can be read publicly, instead of writing something hurtful / intimidate ourselves and others or something that is not important at all.

Hadi Nur Setyawan 
Students UMY 2009 
abu.sabrina @ yahoo.co.id
cp. +6281 311 099 051
http://hadinursetyawan.blogspot.com/



*) Is an intra-campus bulletin run by Muhammadiyah Students Association in cooperation UMY Field Field Lessons and Da'wah. Published bi-weekly.